Melatih Ketangkasan Fisik dan Kejujuran Berlandaskan Nilai Islami dalam Permainan Benthik
Permainan Tradisional Benthik
Pernahkah Anda membayangkan
bahwa sepasang kayu sederhana bisa menjadi sarana melatih karakter mulia
layaknya seorang ksatria muslim? Di tengan gempuran game digital yang
seringkali melalaikan, permainan tradisional Benthik hadir kembali bukan
sekadar sebagai hiburan pengisi waktu luang. Di balik serunya bunyi "thik" saat
kayu beradu, tersimpan simulasi kehidupan tentang bagaimana seorang individu
harus bangkit, membidik target dengan tepat, dan tetap membumi meski sedang
berada di puncak kemenangan.
Benthik adalah
permainan tradisional yang menggunakan dua potong kayu (biasanya dari dahan
pohon nangka atau bambu) berukuran berbeda: satu kayu panjang (induk) sekitar
30-40 cm dan satu kayu pendek (anak) sekitar 10-15 cm. Pemain harus
melentingkan kayu pendek menggunakan kayu panjang dari sebuah lubang kecil di
tanah, lalu memukulnya sejauh mungkin. Skor dihitung dari seberapa jauh kayu
tersebut terlempar atau berapa kali pemain berhasil memukul kayu di udara.
Mengulik Sifat Amanah dan Tawadhu dalam Ketangkasan Bermain Benthik
Dalam prespektif Islam, permainan Benthik mencerminkan sifat
Amanah (kejujuran) yang sangat kuat, terutama saat proses penghitungan poin
menggunakan panjang kayu. Di sini, pemain dididik untuk jujur dalam menghitung
jarak tanpa melebih-lebihkan, sebuah praktik nyata dari integritas seorang
muslim dalam menjaga hak orang lain meskipun tanpa pengawasan wasit yang ketat.
Kejujuran dalam bermain ini sejalan dengan nilai ihsan, yakni merasa
selalu diawasi oleh Allah SWT, sehingga kemenangan yang diraih menjadi berkah
dan tidak menzalimi lawan main.
Selain itu, Benthik mengajarkan sifat Tawadhu atau rendah
hati melalui posisi tubuh saat memulai permainan yang seringkali harus membungkuk
atau berjongkok. Ketangkasan melontarkan kayu ke arah yang tinggi tidak boleh
membuat seorang pemain menjadi sombong (takabur), karena dalam aturan Benthik,
kegagalan kecil dalam menangkap kayu lawan bisa seketika membalikkan keadaan. Permainan
ini menjadi pengingat bahwa kekuatan fisik dan kecerdasan hanyalah titipan, di
mana setiap pemain diajak untuk saling mengakui keunggulan lawan dengan lapang
dada.
Konstruksi Makna dan Negosiasi Simbolik dalam Dinamika Permainan Benthik
Secara teoritis,
Benthik merupakan manifestasi dari Komunikasi Antarpribadi yang mengedepankan
keterbukaan dan empati. Dalam proses menentukan "aturan main" atau saat
menghitung skor secara manual, para pemain terlibat dalam negosiasi simbolik
yang bertujuan menyamakan persepsi (shared meaning). Tidak ada ruang
bagi ambiguitas: setiap pemain harus mampu menyampaikan pesan dengan jelas dan
mendengarkan umpan balik dari lawan agar permainan tetap berjalan tertib, yang
dalam ilmu komunikasi merupakan kunci dari keberhasilan interaksi sosial yang
sehat.
Lebih jauh lagi,
Benthik melatih penggunaan Komunikasi Non-verbal melalui bahasa tubuh dan
isyarat saat bersiap melakukan pukulan atau tangkapan. Gerakan tubuh pemain
berfungsi sebagai pesan yang bisa mengecoh atau justru menunjukkan kredibilitas
di depan lawan. Di sini, terjadi proses enkulturasi budaya di mana nilai-nilai
kerja sama dan rasa hormat disampaikan tidak melalui teks, melainkan melalui
tindakan nyata. Hal ini membuktikan bahwa benthik adalah media komunikasi
tradisional yang sangat ampuh dalam memperkuat ikatan sosial dan membangun
kepercayaan antar anggota komunitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar